Krisis Air di Saree Makin Mengkhawatirkan, Warga Soroti Perambahan Hutan Lindung di Kaki Gunung Seulawah

JANTHO - Masyarakat Kemukiman Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, kembali menghadapi krisis air bersih yang telah berlangsung sejak tahun 1981. Kondisi ini semakin memprihatinkan di tahun 2025, seiring dengan menurunnya debit air dari sumber-sumber alam yang selama ini menjadi tumpuan warga.

Sejumlah tokoh masyarakat menyampaikan keprihatinan atas maraknya perambahan hutan lindung di kawasan kaki Gunung Seulawah Agam yang diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya ketersediaan air bersih.

"Kami menyesalkan tindakan oknum-oknum petani yang membuka lahan di kawasan hutan lindung. Hutan itu adalah penyangga air. Kalau terus dirambah, masyarakat Saree sendiri yang akan merasakan dampaknya," ujar Maswadi, salah seorang tokoh masyarakat Desa Sukadamai, Minggu (1/6).

Maswadi juga mengajak masyarakat Dusun Sukamakmur dan sekitarnya untuk turut menjaga kawasan hutan lindung serta tidak mendiamkan aktivitas ilegal yang dapat memicu kerusakan lingkungan dan konflik sosial antarwarga.

"Kita harus mengingatkan sesama. Orang tua kita dulu tidak berani membuka lahan di kaki Gunung Seulawah karena mereka paham bahwa hutan itu penting untuk air. Sekarang, kesadaran itu seolah hilang," tambahnya.

Kawasan hutan lindung di kaki Gunung Seulawah Agam, menurut catatan warga, dulunya terjaga baik pada era 1970–1980-an. Kala itu, keberadaan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) dan Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) Negeri Saree turut memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sosok Drh. Rusli Yusuf, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sekolah, dikenal sebagai figur yang tegas melindungi kawasan hutan dari pembukaan lahan liar.

Kini, kondisi tersebut mulai berubah. Perambahan hutan oleh segelintir pihak dikhawatirkan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memicu krisis air dan potensi konflik antarwarga, terutama antara Desa Sukadamai dan Desa Sukamulia yang berbatasan langsung dengan kawasan rawan perambahan.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh Keuchik Desa Sukamulia melalui akun media sosialnya. Dalam unggahan tersebut, ia mengajak masyarakat untuk menjaga sumber-sumber air di Saree dan memperingatkan bahwa kerusakan hutan akan memperparah krisis air yang kini sudah terasa.

"Kita tidak bisa diam. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal kelangsungan hidup. Air adalah hak semua warga," tulisnya dalam unggahan yang mendapatkan banyak tanggapan dari warganet setempat.

Warga berharap aparatur Kemukiman Saree segera mengambil langkah pencegahan sebelum persoalan ini berkembang menjadi konflik sosial yang lebih luas. Penegakan aturan terkait kawasan hutan lindung serta pendekatan persuasif kepada warga yang membuka lahan secara ilegal dinilai menjadi langkah mendesak. [mtis]

Postingan Lama
Postingan Lebih Baru