Dinkes Kabupaten Aceh Utara Gencarkan Sosialisasi Bahaya Tuberkulosis


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Aceh Utara Amir Syarifuddin, SKM, MM  melalui Kabid P2P dr. Ferianto mengatakan, jajarannya secara intensif melakukan sosialisasi terkait bahaya penyakit Tuberkulosis (TBC). Langkah itu guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran di masyarakat tentang bahaya penyakit tersebut.

dr. Ferianto mengatakan, Beban TBC di Aceh utara tertinggi di provinsi Aceh yaitu 2242 kasus, dengan jumlah kasus yang ditemukan 902 kasus. "Stigma negatif terhadap penyakit TBC masih membuat masyarakat enggan memeriksakan diri bila ada gejala dan kontak dengan pasien TBC," imbuhnya.

"Semoga upaya sosialisasi yang terus dilakukan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga eliminasi TBC di Kab. Aceh Utara dapat terwujud," kata dr. Ferianto, Kamis (16/11/2023)

Penyakit TBC dapat dicegah dan jika sudah positif TBC dapat diobati sampai sembuh jika pasien patuh minum obat.  dr. Ferianto menyebutkan, mayoritas masyarakat menganggap batuk sebagai gejala awal TBC sebagai batuk biasa, sehingga enggan berobat.

"Padahal, penyakit tersebut mudah menular dan membutuhkan perawatan medis secara serius. Penyakit yang disebabkan bakteri tersebut bisa menimbulkan gangguan pada saluran napas," sebutnya.

Tuberkulosis, sering disingkat TB atau TBC, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja dan organ tubuh yang diserang biasanya adalah paru-paru, tulang belakang, kulit, otak, kelenjar getah bening, dan jantung.


Bagaimana penularan TB?
Penularan atau infeksi terjadi saat kuman TB yang berada dan bertebaran di udara terhirup oleh orang lain. Saat penderita TB batuk atau bersin tanpa menutup mulut, bakteri akan tersebar ke udara dalam bentuk percikan dahak atau droplet. Sekali batuk dapat mengeluarkan 3000 percikan dahak yang mengandung sampai 3500 kuman M. tuberculosis.

Sedangkan sekali bersin mengeluarkan 4500 - 1 juta kuman M. tuberculosis. Bakteri masuk ke saluran pernapasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Reaksi daya tahan tubuh akan terjadi 6-14 minggu setelah infeksi.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi bagian organ tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang, sendi, kelenjar getah bening, atau selaput otak, kondisi ini dinamakan dengan TB ekstra paru. Indonesia berada di urutan ke 3 negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India dan Cina.

Gejala TB
Gejala utamanya adalah batuk terus-menerus (berdahak maupun tidak berdahak). Gejala lainnya adalah demam dan meriang dalam jangka waktu yang panjang; sesak nafas dan  nyeri dada; berat badan menurun; ketika batuk terkadang dahak bercampur darah; nafsu makan menurun; dan, berkeringat di malam hari meski tanpa melakukan kegiatan.

Siapapun yang berada di dekat orang yang terinfeksi TB bisa terkena dampaknya. Namun yang paling berisiko ialah anak-anak, orang penderita HIV/AIDS, lansia, orang dengan Diabetes Melitus (DM), orang yang sering kontak langsung dengan penderita TB, serta perokok aktif.

Penyakit ini akan menyerang sistem kekebalan tubuh, terutama yang mengalami penurunan daya tahan tubuh. Selain itu risiko penularan TB juga cukup besar pada orang yang tinggal di tempat tinggal yang tidak memenuhi syarat kesehatan, misalnya lingkungan padat dan kumuh, tempat pendidikan dengan asrama, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan. 

"TBC ini menyerang segala usia dan harus mendapatkan pengobatan secara tuntas. Pengobatan TB paru ini tidak dipungut biaya," ungkap  dr. Ferianto.

Bagi anak-anak penyakit yang salah satu gejalanya batuk berdahak sampai 2 minggu itu dapat mengganggu tumbuh kembang. Anak dengan stunting ini juga beresiko terkena TBC.

“Bagi usia remaja dan dewasa terkena TBC membuat mereka menjadi tidak produktif. Sehingga harus mendapatkan pengobatan penuh selama 6 bulan,” imbuhnya.

Tuberkulosis Bisa Disembuhkan
dr. Ferianto juga menekannya pentingnya bagi pasien TB untuk menjalani pengobatan secara benar selama 6 bulan berturut-turut untuk menghindari pasien menjadi resisten terhadap pengobatan Tb atau di kenal dengan Multi-drug-resistant tuberculosis (MDR-TB).

"Jika ini sampai terjadi maka pasien membutuhkan pengobatan yang jauh lebih lama yaitu dua tahun tanpa henti. Penyakit TBC Insya Allah sembuh, asalkan mau berobat", pesan Ferianto.

Untuk menjaga kesinambungan pengobatan pada pasien resisten ini, pasien juga perlu dilakukan pendampingan yang ketat agar tidak terjadi kasus drop out.

"Penderita MDR- TB bila menularkan kepada orang lain menyebabkan orang yang tertular akan langsung menderita MDR-TB dan membutuhkan pengobatan selama 2 tahun juga. Indonesia sendiri dianggap memiliki prevalensi MDR-TB yang tinggi", tambah Ferianto.

Untuk menekan jumlah penderita TBC di kabupaten tersebut, menurut Kadindes Aceh Utara Amir Syarifuddin, akan ditingkatkan kerja sama dengan lintas sektor. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan mau memeriksa kesehatan di layanan kesehatan pemerintah dan swasta yang ada di kabupaten Aceh Utara.

“Peningkatan kompetensi tenaga medis juga untuk mampu menjangkau penderita TBC lebih banyak lagi, agar bisa ditekan jumlah penderitanya,” pungkasnya. [Adv]
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru