Bocah Alibanisa Lahir Tanpa Lubang Anus

author photoRedaksi
23 Jun 2020 - 19:33 WIB

BANDA ACEH - Alibanisa Zahabia balita berusia 19 bulan, asal Desa Keude Blang Jreun Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara ini lahir tanpa memiliki Lubang Anus. Sejak bayi, ia terpaksa Buang Air Besar (BAB) melalui saluran yang dibuat di bagian perutnya.

Sepintas, anak bungsu dari pasangan Alm Abdussalm  dan Yusnita (42) terlihat tak punya masalah gangguan kesehatan. Seperti anak-anak seusianya Alibanisa Zahabia, tampak senang bermain dengan Ibunya.

Yusnita menceritakan, Alibanisa Zahabia lahir secara normal. Paska tidak memiliki anus seperti balita biasa. Namun Yusnita merujuk ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Banda Aceh (RSSIA).

Setelah memeriksakan penyakit yang diderita anaknya RSIA Banda Aceh, Balita mungil itu didiagnosis mengidap penyakit Atresia Ani atau disebut juga anus imperforata. Dengan begitu perlu dilakukan operasi dan pembuatan lubang anus darurat di perut sebelah kirinya supaya kotoran bisa keluar.

"Kemudian pihak RSSIA menolak kemudian dirujukkan ke Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh," ceritanya, Yusnita di Banda Aceh, 22 Juni 2020.

Yusnita bercerita anaknya diketahui tidak mempunyai lubang setelah dilahirkan. Penyakit yang diderita anaknya berawal dari tidak bisa BAB, perut membuncit dan mengeluarkan darah di lubang anus.

Alibanisa Zahabia sudah satu kali menjalani operasi, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia berharap, kelak bisa menjalani operasi lagi hingga memiliki anus seperti manusia normal lainnya.

"Alibanisa Zahabia saat ini sedang mengkonsultasi dengan dokter bedah, melanjutkan operasi yang kedua. Mudah-mudahan bisa berjalan lancar," harapnya.

Yusnita mengisahkan, setiap hari Alibanisa harus menenteng kantong plastik Kantong Kolostomi umtuk menampung kotoran dipasang dibagian perut. Kantong Plastik Kolostomi itu satu kota dijual Rp. 100 ribu.

"Satu hari kadang satu plakstik, kadang satu plastik bertahan tiga hari, tergantung kotoran yang dikeluarkan, tetapi untuk membeli Kantong sangat berat, selain harga mahal juga kebutuhan ekonomi tidak mencukupi," kata

Walau demikian, sebagai Sang Ibu Yusnita mengaku tidak pernah putus asa dengan keadaan Putrinya. Karena, ia pun melihat sang anak selalu semangat ceria dan tumbuh kembangnya tidak terganggu dengan kelainan itu.

"Terkadang memang kasihan, meresa sedih tak tahu mau mengadu kemana, supaya derita yang dialami Putri Saya ada jalan keluar," tuturnya.

Sebagai orang tua, Yusnita merasa harus lebih kuat. Oleh karena itu, ia selalu berdoa dan hanya memikirkan bagaimana kelangsungan hidup ke depan.

"Berharap ada tangan-tangan tulus para dermawan yang bersimpati untuk membantu mengoperasi buah hatinya, agar kelak dapat tumbuh dewasa seperti manusia normal yang memiliki anus," harapnya.
KOMENTAR