Polemik Bupati dan DPRK: Hidupnya partipasi politik 2 tahun Sebelum Pilkada

author photoCitizen Journalism
30 Mei 2020 - 12:48 WIB

Oleh: Hermawansyah, S.Ant

Polemik yang saat ini terjadi di Kabupaten Bener Meriah sangat benar-benar menghebohkan, bermula dari pernyataan secara lisan oleh Bupati Sarkawi yang berniat ingin mengundurkan diri dari jabatanya sebagai Kepala Daerah. 

Pernyataan tersebut beliau utarakan dihadapan jamaah Shalat Idul Fitri pada beberapa hari yang telah lewat, dari pernyataan yang beliau sampaikan, keadaannya yang kurang sehatlah yang menjadi alasanya. 

Dengan pernyataan sikapnya untuk mengundurkan diri menimbulkan bermacam respon yang menjadi perbincangan dikalangan masyarakat, dari pantaun beberapa media terlihat bagaimana antusias masyarakat ingin bersilaturahmi sekaligus mendiskusikan kenapa harus mundur.

Disisi itu bermacam lembaga swadaya dan persatuan mengatasnamakan pemuda bahkan Kepala Desa mendukung penuh bahwasanya bupati harus bertahan dan tak kalah menariknya pejabat seperti Anggota DPRI Ruslan M Daud dan Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar serta Istri mantan Bupati sebelumya yaitu Ahmadi ikut memberikan semangat kepada Bupati Sarkawi  agar tetap bertahan untuk memimpin Kabupaten Bener Meriah. 

Atas dasar itulah Bupati Sarkawi menimbang kembali keputusanya untuk mundur dan memberikan kepastian, dengan menyatakan sikap, bahwa beliau tetap menjabat serta meminta izin untuk cuti dalam rangka berobat.

Tepat pada tanggal 27 mei, informasi yang menghebohkan kembali terjadi dimana Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Kabupaten Bener Meriah kembali merespon terkait pernyataan Bupati yang ingin mundur dari jabatanya, terpantau dari salah satu media online bahwasanya DPRK melayangkan surat yang bertujuan untuk pengunduran diri dari jabatan Bupati.

Berdasarkan informasi tersebut, masyarakat secara luas kembali bertanya secara pikiran terbuka, serta berasumsi, polemik eksekutif dan legislatif sangat menarik untuk diperbincangkan, ditambah dari informasi yang beredar, permintaan pernyataan pengunduran diri juga dilayangkan dari partai koalisi pemerintahan di Pilkada tahun 2017 yang lalu.

Atas dasar polemik yang berlangsung di atas saya ingin mengkaji sebuah konsep didalam sosiologi politik, dimana kekisruhan antara lembaga eksekutif dan legislatif dikalangan masyarakat sudah menjadi pembahasan setiap waktunya, didalam kajian ini saya ingin memperkenalkan istilah Partisipasi politik, dimana didalam partisipasi ini nantinya dapat terlihat seberapa dalam imbas dari polemik kedua lembaga tersebut.

Pakar ilmuan sosiologi politik yaitu Milbrath mengungkapkan ada empat faktor yang mempengaruhi individu untuk berpartisipasi politik; pertama, adanya perangsang dimana hal ini membuat seseorang menjadi tertarik untuk membahas polemik politik saat ini, perangsang boleh dikatakan adanya faktor eksternal fenomena politik yang sangat menarik di dalam kehidupan sehari-hari; kedua, faktor karakteristik pribadi seseorang, nah didalam pembahasanya, seseorang mau berpartisipasi dikarenakan adanya kepedulianya terhadap sosial, ekonomi yang dia sadar bahwa politiklah yang memutuskan segalanya untuk tetap berjalan dengan baik; ketiga, karakteristik sosial seseorang, disini dibahas bahwasanya seseorang mau ikut berpartisipasi dikarenakan adanya dorongan didalam lingkunganya serta dorongan nilai-nilai sosial yang menjadi kebiasanya seperti keterbukaan, kejujuran dan keadilan yang mempengaruhi seseorang tersebut ikut berpartisipasi ; keempat, situasi dan kondisi politik itu sendiri, nah ini yang sangat menarik untuk dibahas, sebagai negara yang menganut sistem demokrasi didalam kehidupan politik, membuat seseorang bebas untuk menentukan kehidupan politik, mulai dari ikut bergabung kedalam partai politik, menduduki jabatan partai politik, berdiskusi tentang politik, dan ikut memilih secara politik.

Didalam kesimpulan dari pembahasan diatas bahwasnya dapatlah kita tarik sampai manakah sudah kehidupan politik dikabupaten Bener Meriah  saat ini, dipantau dari tindakan anggota masyarakatnya yang sangat antusias berpartisipasi untuk menentukan keberlangsungan pemerintahan di daerah dataran tinggi ini, semoga tulisan ini menjadi tolak ukur bahwa di Bener Meriah kehidupan berpolitik masih berjalan dengan baik.

Penulis merupakan Ketua Umum HIMAGA Lhokseumawe-Aceh Utara Priode 2017-2018 dan merupakan alumni Antropologi dan saat ini Mahasiswa PascaSarjana Sosiologi, Universitas Malikussaleh.
KOMENTAR