Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri RI Resmikan Revitalisasi Gedung MH MZ dan Jum'at Perdana Masjid Al - Mabrur

author photoRedaksi
3 Jan 2020 - 18:44 WIB

THE ATJEH NET, BANDA ACEH - Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri RI, Dr H Muhajirin Yanis M PD I melangsungkan Peresmian Revitalisasi Gedung MH, MZ, Bangunan Jaringan Air, Handscape Hal (SBSN 2019) dan Jum'at Perdana Masjid AL - Mabrur, Jum'at (03 Januari 2020).

Kakanwil Kementerian Agama Aceh, Drs H M Daud Pakeh mengatakan, Keberadaan Asrama Haji merupakan salah satu faktor penting dalam penyelenggaraan Ibadah Haji dan pintu gerbang pertama yang harus dilalui Jamaah Calon Haji sebelum berangkat ke Tanah Suci. 

"Dalam rangka memberi pelayanan yang maksimal kepada para tamu-tamu Allah, Badan Pengelola Asrama Haji (BPAH) Embarkasi Banda Aceh senantiasa berupaya meningkatkan berbagai fasilitas yang ada di Asrama Haji yang memiliki area seluas 25.300 m2," ungkapnya.

Adapun beberapa fasilitas yang tersedia guna mendukung susksesnya operasional penyelenggaraan Ibadah Haji diantaranya : 1. Sarana Ibadah Masjid Al-Mabrur seluas 508 m2 menjadi pusat kegiatan ibadah bagi Jamaah Calon Haji yang menginap di Asrama Haji satu hari sebelum pemberangkatan. 

"Walaupun masih dalam tahap pembangunan, masjid ini telah dapat digunakan untuk pelaksanaan ibadah khususnya shalat fardhu", Ujarnya.

Oleh sebab itu, Masjid ini dirancang dua lantai secara permanen dan dilengkapi dengan tempat wudhu' seluas 133,3 m2 sebagai sarana penunjang. Gedung Penginapan saat ini tersedia sebanyak empat gedung yang berfungsi sebagai penginapan baik bagi Jamaah Calon Haji yang akan berangkat ke tanah suci maupun panitia dan tamu undangan yakni diantaranya, Gedung Mudzdalifah yang dibangun tiga lantai di atas tanah seluas 752 m2 dengan 55 kamar dimana setiap kamarnya dilengkapi dengan satu buah kamar mandi, spring bed dan Air Conditioner (AC). 

Gedung ini dapat menampung sebanyak 275 orang jamaah dengan rata-rata setiap kamar diperuntukkan bagi lima orang calon jamaah dan merupakan pusat pemondokan calon jamaah haji, Gedung Madinatul Hujjaj Gedung ini dibangun tiga lantai di atas tanah seluas 749 m2 yang memiliki 55 kamar dimana setiap kamarnya telah dilengkapi dengan kamar mandi dan Air Conditioner (AC). 

Sebahagian lantai I gedung ini juga digunakan untuk menampung sisa jamaah yang tidak tertampung di Gedung Mudzdalifah sebanyak 50 orang untuk 10 kamar. Sedangkan sisanya, diperuntukkan bagi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) seperti ruang kerja Keimigrasian, Ruang kerja Bidang Dokumen, Ruang Kerja Petugas Garuda, Penginapan Panitia dan sebagainya, Gedung Mina dengan penempatan panitia khususnya Karyawan Badan Pengelola Asrama Haji (BPAH) Embarkasi Banda Aceh menempati gedung Mina yang memiliki 12 kamar di atas tanah seluas 253 m2. 

Gedung Raudhah Gedung Raudhah dipergunakan sebagai tempat penginapan tamu VIP yang terdiri dari 6 kamar dengan luas 234,6 m2 dan Aula Pertemuan Asrama Haji Embarkasi Banda Aceh memiliki dua Aula pertemuan yang dapat digunakan untuk pelaksanaan berbagai kegiatan seperti pengarahan, pembagian living cost, pembagian dokumen, dan sebagainya. 

"Gedung Aula Arafah dengan luas 415 m2 dan Aula Utama dengan luas 1.394,6 m2 memiliki dapur dan ruang makan penyajian konsumsi bagi Jamaah Calon Haji Wanita dilakukan di Gedung Aziziyah dengan luas bangunan 462 m2, sedangkan Jamaah Calon Haji Pria disediakan di Gedung Makkah," jelasnya.

Ia juga menyampaikan, mengingat gedung Sarana dan gedung lainnya yang mendukung kelengkapan Asrama Haji Embarkasi Banda Aceh diantaranya adalah Gardu Listrik yang merupakan tempat penyimpanan mesin pembangit listrik cadangan (65 M2), ruang penyimpanan mesin pompa air (7 m2), Toilet dan WC umum (36,5 m2) serta Pos Satpam (88,7 m2), untuk menjamin keamanan, di sekeliling Asrama Haji telah dibangun pagar yang terbuat dari tembok beton.

Daud Pakeh juga menyatakan, Pemerintah Aceh saat ini sudah memenangkan penyelesaian keputusan Mahkamah Agung sesuai dokumen yang sampai sekarang masih ada tersimpan, sehingga evaluasi penyelesaian tanah kuburan sebelahnya juga dapat segera melangsungkan pemindahan kuburan yang akan dipergunakan sebagai halaman Manasik Haji kedepannya, bukan seperti yang terdengar selama ini akan dipergunakan untuk lahan parkir.

"Pembangunan Gedung lama yang paling depan juga kedepan akan terbangun lagi menjadi Gedung Bintang Lima, sebagaimana rencana awal untuk dapat terbangun lebih megah nantinya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Asrama Haji Aceh, Drs H M Ali Amran MM menambahkan, berlangsungnya pembangunan gedung bintang lima ini akan langsung bersama-sama dapat dipantau oleh Kejaksaan, Kajati, LSM dan Media agar kelanjutan pembangunannya kedepan dapat terus berlanjut dengan status yang sesuai.

"Sesuai kesepakatan bersama pembangunan Penginapan Hotel Bintang Lima ini nantinya akan dilengkapi fasilitas kartu elektronik dan lift yang telah dianggarkan, selanjutnya pembangunan lain juga akan terus berlanjut seperti, Minatul Ka'bah, Sya'i, Jama'ar untuk melontar agar jama'ah sebelum berangkat dapat mengikuti training sebelum keberangkatannya terlebih dahulu. (Ulan)
KOMENTAR