Nad Milenial Youth Istitute Sebut: Kebijakan Plt. Gubernur Aceh Banyak Menyakiti Rakyat

author photoRedaksi
29 Nov 2019 - 06:12 WIB

Jakarta - Koordinator Forum Kajian NAD Milenial Youth Istitute, Agussalim menganggap banyak kebijakan Plt. Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah menyakiti hati Rakyat Miskin. 

Hal tersebut disampaikan Agussalim kepada media, Kamis (28/11/2019) di Jakarta.

Ia mengatakan, beberapa perihal kebijakan Plt. Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah yang mencuat ke publik belakang ini dinilai sangat menyakiti hati rakyat Aceh, terutama rakyat miskin yang masih berharap adanya kinerja baik dari Pemerintah Aceh untuk meningkatkan taraf pertumbuhan ekonomi masyarakat Aceh Kedepan.

"Mulai dari kecolongan anggaran pengadaan barang mencapai 3 milyar lebih untuk Kadin Aceh, rencana pengadaan mobil dinas baru yang mencapai 100 milyar lebih untuk SKPA di Provinsi Aceh dan dilanjutkan dengan pembatalan pembangunan 1.100 unit rumah duafa Provinsi Aceh", Sebutnya.

Ia menilai, kejadian semacam itu terksesan kalau plt. Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah sepertinya belum paham untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di Aceh saat ini.

"kita perlu pertanyakan kemana arah dari narasi program unggulan Pemerintah Aceh seperti, Aceh sejahtera, Aceh Caroeng, Aceh troe, Aceh Kaya, Aceh Teuga, Aceh Seumeugoet, Aceh Kreatif dan lain sebagainya untuk memecahkan persoalan Aceh yang hari ini masih berada diperingkat atas daerah termiskin di Sumatera. Apakah seperti pengadaan barang yang mencapai 3 milyar lebih untuk kadin Aceh itu adalah terjemahan dari Aceh Kreatif yang dimaksudkan pak Plt. atau seperti apa?", Terangnya.

Kemudian adanya pembatalan rumah duafa yang menggambarkan lemah dan abainya pelayanan dari Pemerintah terhadap fakir miskin di Aceh.

"Kok pembelian mobil baru sebanyak 72 unit terbesar di 33 SKPA yang mencapai 100 milyar lebih malah didahulukan ketimbang pembangunan Rumah Duafa Fakir miskin. Memalukan jika Pemerintah Aceh abai terhadap program yang seharusnya menjadi prioritas utama dan tepat sasaran dalam menuntaskan persoalan Aceh, dapat keluar dari zona daerah termiskin di Sumatera", Jelasnya.

Belum lagi adanya keluhan dari Plt. Gubernur Aceh yang merasa terlalu berat bekerja sendirian.

"Rakyat tak akan kenyang dengan keluhan pak plt. Gubernur disaat ketahuan bobroknya kinerja pemerintah, yang seharusnya itu menjadi tanggung jawab dan tugas utama sebagai pemimpin Aceh", Tutup Agus.
KOMENTAR