UMKM Tenun dan Anyaman Aceh Timur Didorong Naik Kelas, Pemerintah Siapkan Program Desa Kreatif
Pengrajin membutuhkan pelatihan, perlindungan kekayaan intelektual, administrasi usaha, hingga akses pendanaan dan pasar.
![]() |
| Gambar ilustrasi Perajin tenun dan anyaman mengolah produk kerajinan tradisional. Pengembangan kualitas, legalitas usaha, dan akses pasar menjadi tantangan UMKM kerajinan di Aceh Timur. |
ACEH TIMUR — Pelaku UMKM tenun dan anyaman tikar di Aceh Timur dinilai masih membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar. Pemerintah daerah mendorong penguatan sektor ekonomi kreatif melalui pelatihan, perlindungan kekayaan intelektual, dan pembenahan administrasi usaha.
Bupati Aceh Timur mengatakan sejumlah usaha kerajinan tradisional telah berkembang di daerah tersebut. Namun, pengrajin masih menghadapi persoalan pengembangan produk dan pengelolaan usaha yang perlu ditangani agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Aceh Timur sudah memiliki UMKM tenun dan anyaman tikar yang berkembang. Namun mereka masih membutuhkan pengembangan, mulai dari pelatihan, pendaftaran kekayaan intelektual, hingga pembentukan administrasi usaha yang lebih baik,” kata Bupati.
Menurut dia, pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan pelestarian kerajinan tradisional. Sektor tersebut juga berpotensi menjadi sumber pendapatan baru sekaligus membuka lapangan kerja, terutama bagi masyarakat di wilayah pedesaan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong adanya pendampingan yang tidak berhenti pada peningkatan keterampilan produksi. Legalitas usaha, perlindungan kekayaan intelektual, pengemasan produk, hingga akses pasar juga dinilai perlu diperkuat.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pemerintah menyiapkan pola pembinaan melalui program desa kreatif untuk mendukung pelaku usaha di daerah.
Menurut dia, pembinaan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan agar pelaku usaha tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan. Pendampingan diarahkan hingga pelaku usaha mampu mengembangkan produk dan meningkatkan skala bisnis.
“Pelatihan yang kami lakukan bukan sekadar satu hari selesai. Kami ingin mendampingi mereka sampai tuntas dan berhasil, termasuk memfasilitasi akses pendanaan dan berbagai kebutuhan lainnya,” kata Teuku Riefky.
Skema tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Aceh Timur. Pengrajin tidak hanya didorong menghasilkan produk, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola usaha, melindungi produk secara hukum, serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Penguatan aspek tersebut menjadi penting bagi UMKM kerajinan tradisional agar produk lokal tidak hanya bertahan sebagai komoditas budaya, tetapi berkembang menjadi usaha yang memberikan pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat.
Baca Juga:

