Eks Kombatan GAM di Bireuen Tinggal di Bawah Tenda, Rumah Hancur Dihantam Gelondongan Kayu, Dua Tahap DTH Tak Diterima
0 menit baca
BIREUEN- Potret buram penanganan korban banjir kembali mencuat di Kabupaten Bireuen. Satu keluarga eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Desa Kapa, Kecamatan Peusangan, hingga kini masih bertahan hidup di bawah tenda darurat setelah rumah dan tempat usaha mereka hancur dihantam gelondongan kayu gunung saat banjir bandang tiga bulan lalu.
M.Amin (44) mengaku kecewa karena hingga saat ini dirinya belum menerima Dana Tunggu Hunian (DTH), meski bantuan tersebut disebut-sebut sudah dicairkan dalam dua tahap kepada korban banjir lainnya.
"Rumah kami hancur total dihantam kayu besar dari gunung. Tempat usaha saya juga habis. Tapi sampai sekarang dua tahap DTH saya tidak terima. Kami masih tinggal di bawah tenda," ujar M.Amin kepada wartawan, Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Ia menilai terjadi saling lempar tanggung jawab antara pemerintah gampong, kecamatan, hingga kabupaten terkait verifikasi data korban.
"Saya heran, kenapa seolah-olah pemerintah pusat yang disalahkan soal data. Padahal dari awal penolakan pembangunan hunian sementara (Huntara) justru muncul dari tingkat bawah. Hak kami sebagai korban seperti dipermainkan," tegasnya.
Ia juga menyinggung pertemuan bersama Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, yang akrab disapa Dek Fadh, di balai desa Kecamatan Peusangan beberapa waktu lalu. Dalam forum itu, kata Amin, para keuchik terkesan menolak pembangunan Huntara.
"Saya hadir langsung. Seolah-olah sudah ada pengkondisian untuk menolak Huntara. Padahal saya sangat ingin menyampaikan bahwa keluarga saya sangat membutuhkan hunian sementara. Anak saya enam orang, ada yang masih bayi," ungkapnya.
Bertahan di Bawah Tenda Saat Ramadan
Memasuki bulan suci Ramadan, kondisi keluarga Amin kian memprihatinkan. Tenda darurat yang mereka tempati di pinggir jalan tak mampu melindungi dari panas terik di siang hari maupun hujan di malam hari.
"Kalau siang panas menyengat, kalau hujan kami basah. Kami ini korban yang rumahnya benar-benar hancur. Kenapa justru tidak dapat DTH?" katanya.
Ia juga mempertanyakan kunjungan sejumlah pejabat pusat ke Bireuen yang dinilai belum menyentuh langsung warga terdampak paling parah di Desa Kapa.
"Presiden sering mengutus menteri ke Bireuen. Tapi kenapa tidak langsung turun ke desa kami supaya tahu kondisi sebenarnya?" ujarnya.
Sebagai eks kombatan GAM, Amin turut memohon perhatian Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, agar turun langsung meninjau kondisi warga.
"Saya mohon kepada Mualem selaku Gubernur Aceh, datang dan lihat sendiri keadaan kami. Jangan hanya laporan di atas meja," pintanya.
Enam Anak Hidup Berdesakan
Istri M.Amin, Badriah, tak kuasa menahan kesedihan saat menceritakan kondisi keluarganya. Dengan enam anak, termasuk seorang bayi, ia mengaku sangat kesulitan menjalani hari-hari di tenda darurat.
"Kami tinggal di pinggir jalan seperti ini. Anak-anak kepanasan, kehujanan. DTH tidak dapat, usaha suami juga hancur. Untuk makan saja susah," tuturnya lirih.
Hal serupa disampaikan Jamilah (60), seorang janda warga setempat yang juga masih tinggal di tenda.
"Kami mohon kepada pemerintah pusat segera bangun Huntara. Kalau menunggu hunian tetap (Huntap), belum tahu kapan. Kami tidak sanggup terus tidur di tenda," katanya sambil meneteskan air mata.
Pemerintah Gampong: Data Sudah Diserahkan
Sementara itu, Keuchik Desa Kapa, Evendi, menyatakan pihaknya telah menjalankan kewajiban mendata seluruh korban banjir dan menyerahkan hasilnya kepada pemerintah di atasnya.
"Kami sudah mendata warga korban banjir sesuai prosedur. Soal keputusan bantuan dan pembangunan Huntara, itu kewenangan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat," ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Bireuen terkait alasan belum diterimanya DTH oleh sejumlah korban di Desa Kapa.
Kondisi ini menjadi ujian serius bagi komitmen pemerintah dalam memastikan bantuan bencana tepat sasaran, transparan, dan tidak menyisakan korban yang terabaikan di tengah situasi darurat.(Red)
