Ketua Komisi I DPRK Banda Aceh Jalani Sidang Ujian Tertutup Program Doktor di Unimed

author photoRedaksi
27 Okt 2020 - 21:14 WIB

MEDAN – Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota DPRK Banda Aceh, Ketua Komisi I DPRK, Musriadi Aswad, mengikuti ujian disertasi tertutup yang berlangsung secara daring sebagai upaya untuk mendapatkan gelar doktor, Selasa (27/10/2020).

Ujian tersebut untuk mengevaluasi kompetensi mahasiswa terkait bidang penelitian yang dilakukan, serta memberi masukan dan saran ilmiah agar disertasinya layak dan dapat diajukan pada sidang terbuka berikutnya.

Para dosen yang menjadi penguji dalam ujian tersebut, yaitu Dr Syamsul Gultom SKM MKes, Prof Dr Bornok SPd MPd, Prof Dr Nasrun MS, Prof Dr Khairun Ansari MPd, Prof Syawal Gultom MPd, Prof Zainuddin MPd, Dr Rosnelli MPd, Prof Dr Muniarti AR MPd. dan Prof Dr Nasrun MS.

Musriadi yang sedang menyelesaikan Program Studi S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Medan (Unimed) itu menuliskan disertasi berjudul "Pengaruh Kepemimpinan Transformasional, Budaya Organisasi, Iklim Organisasi, dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Guru SMP Negeri Kota Banda Aceh".

Musriadi menjelaskan, kepala sekolah hendaknya memiliki jiwa strong leadership. Artinya, menjadi pemimpin yang tangguh dan mempunyai visi misi dengan tujuan untuk memajukan sekolah dengan komitmen yang kuat.

"Kepala sekolah harus jadi role model dan quality leadership bagi guru dan masyarakat sekolah," katanya.

Menurut Musriadi, Kepemimpinan transformasional menekankan pada proses membangun komitmen pada pengikutnya untuk bersama-sama berbagi dalam mengembangkan dan menjujung tinggi nilai-nilai dan visi sekolah, serta rasa saling mempercayai antara pemimpin dan pengikutnya. Hal itu sangat penting, sebagai dasar atau landasan misi untuk melakukan transformasional organisasi karena tuntutan lingkungan atau kemajuan teknologi.

Lebih lanjutnya Musriadi mengatakan, kepemimpinan transformasional berpengaruh langsung secara positif terhadap kepuasan kerja maupun kinerja guru. Jika ingin meningkatkan kepuasan kerja guru dan kinerja guru, maka terlebih dahulu perlu ditingkatkan aspek-aspek kepemimpinan transformasional kepala sekolah. 

Peningkatan kepemimpinan transformasional secara teoritis dapat dilakukan dengan peningkatan aspek-aspek seperti peningkatan rasa kejujuran, rasa kepercayaan diri, kecerdasan, dan kreativitas. Peningkatan aspek-aspek tersebut dapat berkontribusi dalam meningkatkan kepuasan kerja guru maupun kinerja guru.

Pada penjelasan indikator, dalam temuan penelitiannya Musriadi menjelaskan, bahwa kepuasan kerja guru di SMP Negeri Kota Banda Aceh merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap peningkatan kinerja guru dengan nilai koefisien jalur mencapai 0,451, selanjutnya disusul oleh variabel kepemimpinan transformasional dengan nilai koefisien jalur mencapai 0,175, variabel iklim organisasi dengan nilai koefisien jalur mencapai 0,153, dan pengaruh terkecil yaitu budaya organisasi dengan nilai koefisien jalur mencapai 0,127.

Novelty yang dimaksud dalam penelitian tersebut adalah kebaruan yang diperoleh dari hasil analisis penelitian dan pengembangan dari pembuktian hipotesis penelitian. Berdasarkan kedelapan hipotesis penelitian yang diajukan, maka hasil pembuktian menghasilkan satu model kinerja guru di SMP negeri di Kota Banda Aceh yang dibangun oleh variabel kepemimpinan transformasional, budaya organisasi, iklim organisasi, dan kepuasan kerja guru di SMP negeri di Kota Banda Aceh.

"Model kinerja guru tersebut menjelaskan bahwa upaya peningkatan kinerja dapat ditempuh dengan dua tahap, yaitu tahap I sebagai upaya peningkatan kepuasan kerja guru dan tahap II merupakan peningkatan kinerja guru secara keseluruhan," ujarnya.

Pada bab 5 dalam kesimpulannya, implikasi hasil penelitian, Musriadi menyampaikan untuk meningkatkan kinerja guru di SMP negeri Kota Banda Aceh, maka beberapa hal yang dilakukan antara lain, bagi kepala dinas agar bisa meningkatkan pembinaan dan bimbingan kepada para kepala sekolah dan guru supaya berprestasi dengan baik sehingga terbentuk kepala sekolah dan guru yang berkualitas dan dapat mendongkrak mutu serta kualitas pendidikan di Banda Aceh. Kemudian membantu merencanakan program untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan meningkatkan kompetensi guru.

Bagi kepala dinas, dapat meningkatkan kejujuran, kepercayaan diri, tingkat kecerdasan, dan kreativitas dalam rangka membangun kualitas pekerjaan yang diharapkan. Lalu meningkatkan rasa kekeluargaan, sikap saling menghormati, rasa kepedulian terhadap sesama dan kedisiplinan antarstakeholder pada sekolah. Bagi guru, dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pekerjaan sesuai target yang telah ditentukan. Kemudian kepala sekolah dan guru wajib berkolaborasi dalam meningkatkan mutu lulusan tapi juga memiliki daya saing yang baik.

"Guru juga mengikuti pelatihan dan pengembangan karier yang dapat mendukung kualitas pekerjaan dan mendukung target yang dicapai sekolah sesuai visi dan misi sekolah yang ditetapkan," tutur Musriadi. []
KOMENTAR