Senator Fachrul Razi: Paradigma Pendidikan Digital dan Merdeka Belajar Sudah Saatnya dikembangkan di Aceh

author photoRedaksi
5 Mei 2020 - 05:07 WIB

BANDA ACEH - Yayasan Pemimpin Muda Aceh gelar seminar Berbasis Online (Daring) via zoom Meeting cloud pada senin malam sehabis sholat tarawih dilaksanakan.

Kegiatan seminar ini terlihat rutin dilaksanakan setiap sore jam 17.00-18.00 dan malam hari jam 22.00-12.00 Wib. Ide cerdas ditengah Pandemik Covid-19 ini di gagas okeh Senator muda asal Aceh (H.Fachrul Razi,M.IP) yang sekarang menjabat Wakil Ketua Komite I DPD RI di Senayan. Seminar Online ini dilaksanakan dalam rangka peringatan hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei.

Senator Fachrul Razi dalam diskusi dua jam berlansung mengatakan bahwa merdeka belajar adalah kemerdekaan berpikir. Dan terutama esensi kemerdekaan berpikir ini harus ada di guru dulu. Tanpa terjadi di guru, tidak mungkin bisa terjadi di murid.

Merdeka Belajar yang diluncurkan Nadiem terdiri atas empat isu penting, yakni penggantian format ujian nasional (UN), pengembalian kewenangan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) ke sekolah, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang hanya satu lembar, dan naiknya kuota jalur prestasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) dari sebelumnya 15% menjadi 30%.

Sementara itu, Fachrul Razi juga menjelaskan teknologi digital harus mampu mendukung Guru dan para pemilik Ilmu/Skill bisa dengan lebih mudah bertemu, mengajar dan mendidik sang murid (revolusi industri 5.0). Serta lebih memudahkan proses evaluasi/penilaian terhadap penguasaan ilmu/skill sang murid. Denganya proses belajar sang murid bisa lebih mudah dan efektif. Murid juga tetap bisa mengembangkan pembelajaran dirinya dari berbagai sumber dan referensi yang bisa diakses lebih mudah dan cepat, baik dalam bentuk fisik maupun online/digital.

Menurut Fachrul Razi sistem pendidikan digital yang sekarang digagas Kemendikbud ditengah pandemi Covid-19 ini sudah sangat layak untuk di kembangkan diseluruh antero negeri dari sabang sampai Merauke, tidak terkecuali Aceh.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem pendidikan Indonesia dari masa ke masa kian berganti menteri, maka bergantinya sistem pembelajaran atau metode belajar. Tercatat dalam riwayat pendidikan sejak tahun 1965 hingga 2021 hampir puluhan kali berbeda cara mengajar dan sistem yang diterapkan dalam proses pendidikan berlangsung," jelasnya Fachrul Razi.

Iskandar A. Samad PhD, Dosen FKIP Unsyiah yang juga Ketua YPMA mengatakan bahwa saat situasi yang mencekam melanda dunia, Indonesia dan Aceh akibat Covid-19, maka pejabat eksekutif juga berlomba-lomba membuat kebijakan baru dalam menerapkan sistem pendidikan digital baik itu kalangan pelajar (Sekolah) maupun kalangan mahasiswa (Kampus). "Bagi kita ini tidak menjadi sebuah masalah, justru ini merupakan terobosan yang seharusnya pemerintah lakukan bukan hari ini, dunia lain sudah melakukannya sejak beberapa era lewat, tapi Indonesia baru sekarang," Imbuh Iskandar yang juga alumni Australia ini.

Iskandar mengatakan bahwa sistem pendidikan digital ini merupakan sistem yang sangat mudah dan bagi pelajar serta mahasiswa juga bebas dalam memilih metode mana yang mereka suka, "merujuk kita ke pendidikan Aceh saat ini yang jauh tertinggal dengan daerah lainnya, maka sudah sepatutnya paragdima pendidikan digital layak di kembangkan di Aceh saat ini," jelas Iskandar

Iskandar menambahkan, disamping itu, era revolusi 4.0 hampir berada di ujung masa dan masa revolusi baru atau revolusi 5.0 sudah menanti. "celakalah kita, kalau masih terpaku dengan sistem pendidikan yang tidak fleksibel berjalan.

Iskandar juga menjelaskan bahwa Ruangguru yang saat ini di goncarkan di Indonesia perlu control dari pemerintah dan semua pihak, pasalnya indikasi lain juga alan muncul apabila kita menggunakan hanya sebatas menyelesaikan tugas atau kewajiban kita. Sebagai contoh metode ajar sekarang via online dan tidak mau tau siapa yang mengerjakan tugas sang anak dan tidak pernah kita pantau kapan ia kerjakan dan sebagainya.

Terakhir Dr. Iskandar yang juga dosen pakar muda dalam dunia pendidikan memberikan masukan bijak dalam diskusi ini. "Mari generasi muda bangkit dan wujudkan cita-cita muliamu dalam belajar, apapun yang menjadi kendala di hari ini, suatu saat akan jadi pembelajaran berharga dalam tantangan global yang sedang berkembang pesat saat ini. 

Kendati demikian Quyung yang juga Eksekutif Marketing Officer ILMCI mengatakan 
selaku pemateri dalam paparannya juga menjelaskan bahwa pendidikan berbasis digital sudah sangat layak kita kampanyekan di Indonesia pasalnya melihat situasi saat ini memang sudah sangat cocok dengan sistem pendidikan era digital, kita juta tidak mau ketinggalan oleh perkembangan teknologi saat ini, maka generasi muda sudah sepatutnya kita berikan pendidikan era baru sesuai dengan keilmuan yang sudah dimiliki, katanya.

Sementara itu Munawar Khalil yang juga Mantan Ketua Umumnya PB PII mengajak semua elemen bersatu demi menwujudkan pendidikan indonesia yang berbasis digital. Semua pelosok daerah harus siap menerima ini dan kita atas nama Kader Pelajar Islam Indonesia sudah melakukan survei ke berbagai daerah guna mendapatkan fasilitas yang layak dalam hal dunia pendidikan, jelas Munawar.

Fachrul Razi diakhir diskusi mengatakan Era Covid-19 ini juga banyak bisa kita ambil hikmahnya, salah satunya penerapan sistem pendidikan digital. Dimana generasi muda atau generasi penerus bangsa ini bisa lebih action dalam melihat isu dan kreatif dalam menciptakan ide-ide baru demi terwujudnya cita-cita mulia. "Ingat tantangan dimasa sekarang adalah peluang dimasa mendatang", tutup Fachrul Razi. (Rls)
KOMENTAR