Diplomasi Kebangsaan Ala Rakyat Aceh-Jokowi

author photoM. Sulaiman
24 Feb 2020 - 21:40 WIB

SIMEULUE- Kehadiran Presiden Jokowi Dodo dan sejumlah menteri kabinet Jilid II pada kenduri kebangsaan di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh Patut diapresiasi. Paling tidak ada beberapa alasan logis yang harus diutarakan. Pertama, kekalahan Jokowi pada dua kali pilpres 2014 dan 2019. Bahkan pada pilpres 2019 hanya 14 % persen saja Rakyat Aceh yang memilih Jokowi. Di bandingkan dengan Prabowo Sandi yang memperoleh 2 juta lebih suara. Namun, hal itu tidak menyurutkan Jokowi untuk hadir menyapa rakyat Aceh. 

Hai ini diungkapkan Eriton, S. Pd Selaku 
sekretaris PK KNPI Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, melalui Rilis WhatsApp pribadinya, kepada Media ini Senin (24 Februari 2020) malam, menyebutkan,"Bukan hanya itu, terhitung selama kontestasi pilpres 2019 Jokowi kerap diterpa isu miring. Label buruk pun melekat pada capres 01 tersebut mulai dari antek PKI, anti islam, cebong, dan tuduhan tendensius lainnya. Tentu saja di Aceh yang dikenal kental dengan praktik syariat islam tersebut isu-isu miring ini akan empuk dan mudah tumbuh dengan subur. Terlebih dibumbui dengan cara-cara politik masa itu. 

Pasca rekonsiliasi kondisi itu kemudian mulai meredah, seiring dengan munculnya Pasangan Jokowi-Ma'ruf sebagai pemenang. Tensi politik yang sudah panas sejak awal itupun perlahan turun berangsur. 

Dalih lain, meski menangguk kekalahan di Aceh, Jokowi tidak kapok datang dan berkunjung ke Aceh. Terhitung selama 2014-2019 Jokowi adalah presiden RI yang paling banyak ke Aceh, yaitu sembilan kali. Sementara belum ada presiden RI sebelumnya yang berkunjung ke Aceh sebanyak itu. Agenda yang diinisiasi oleh Yayasan Sukma dan Forum Bersama (FORBES) yang diinisiasi tokoh-tokoh Aceh ini, alhamdulillah masih dihadiri oleh Jokowi. 

Kenduri Dan Nilai Persatuan, Berbicara kenduri maka identik dengan wujud syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan nikmat-Nya. tak Terlepas dari itu kenduri memamg identik dengan keramaian. 
Sehingga diharapkan menjadi momentum berkumpulnya seluruh lapisan masyarakat dalam suka ria. Sembari mendengar ceramah agama,  zikir dan memanjatkan doa bersama,

Terlepas dari hiruk pikuk politik pilpres. Aceh memang memiliki kredo dan prinsip yang kental terhadap kebudayaan dan nilai-nilai historisnya. Akan tetapi bukan berarti terjebak pada romantisme sejarah. Aceh ingin meninggalkan semua perbedaan yang ada. Baik itu perbedaan pandangan politik, paham kelompok keagamaan, perbedaan budaya dan bahasa. 

Rakyat Aceh melalui agenda leluhur itu,  sadar bahwa membangun Aceh mencapai kegemilangan membutuhkan energi besar. Dan energi itu diperoleh dari kekompakan dan kesatuan. Sehingga kesamaan pandangan terhadap seluruh persoalan Aceh menjadi penting. 

Dunia pendidikan, pengentasan kemiskinan serta pembangunan sektor lain masih penting diperhatikan. Ketimbangan meratapi politik terus menerus terlebih menghujat Jakarta setiap saat. Jadi kenduri terikat nilai-nilai spritual (transenden) sekaligus nilai-nilai sosial (humanitas). Sudah cukup Aceh berdarah-darah sejak abad ke 16 hingga konflik GAM-RI 2005 silam. Meski terkait itu masih ada utang perdamaian yang belum lunas. 

Harapannya presiden Jokowi hadir bersama para tokoh nasional dan menteri lainnya bukan basa-basi. Atau sekedar menunjukkan keberpihakan semu semata. Aceh sebagai titik paling Barat Indonesia tentu bukan sekedar gugusan kepulauan agar mudah dihitung secara matematis atau sekedar letak geografis. Namun Aceh telah menyerah kan tumbuh bersama ibu pertiwi ini. Dugaan saya alasan ini menjadi salah satu landasan kuat Kenduri Kebangsaan bukan Kenduri keAcehan. 

Semangat kenduri ini bukan sekedar untuk memompa persatuan di kalangan masyarakat Aceh, akan tetapi juga bagi masyarakat Indonesia hingga Merauke. Menghapus gap antar budaya dan daerah yang ada. Membulatkan energi menyambut agenda pembangunan nasional yang dicanangkan. 

Kerendahan hati Jokowi harus disambut baik dan patut diapresiasi. Boleh dikata ini rekonsiliasi jilid II secara khusus yaitu antara rakyat Aceh-RI. Tentu saja kenikmatan kuliner Aceh kuah beulangong menjadi pelengkap rasa kenduri kebangsaan," terang Eriton sekretaris PK KNPI  Kacamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue itu,(Red)
KOMENTAR