KAUM Aceh Apresiasi Aksi Mahasiswa dan Pengamanan Polisi

author photoRedaksi
28 Sep 2019 - 11:51 WIB

BANDA ACEH - Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah (KAUM) Aceh, mengapresiasi aksi yang digelar oleh seluruh Mahasiswa dari berbagi Universitas yang ada di Provinsi Aceh. 

Aksi yang berjalan tertib dan tidak anarkis membuktikan bahwa mahasiswa Aceh sudah memahami esensi dari demokrasi dan penyampaian pendapat di muka umum.

Hal tersebut diutarakan Sekretaris KAUM Aceh, yang juga seorang pengacara muda Aceh, T. Rachmad Kurniawan, SH, MH, CPL, kepada Media, (28/9) di Banda Aceh.

"Apa yang disuarakan oleh mahasiswa merupakan cerminan dari suara masyarakat luas. Kritik tersebut disisi lain merupakan refleksi dari intelektualitas dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa Aceh telah membuktikan keberadaan elemen mahasiswa menjadi penting untuk melakukan kontrol sosial terhadap kekuasaan." Terangnya.

Lanjut Rachmad, setelah sekian lama gerakan di Aceh seakan terkubur, hari ini ruh tersebut telah bersatu dan kembali menjadi pengawal dari agenda reformasi yang belum tuntas. Sebagai pejuang reformasi kita harus melawan segala upaya dari berbagai pihak yang ingin mengembalikan tatanan bangsa dan Negera ini ke era orde Baru. Ungkap Mantan Ketua Ikatan Mahasiswa Banda Aceh (Ikamba) ini.

Yang terpenting, setiap demontrasi dan penyampaian pendapat harus dilakukan secara baik, bermoral dan elegan. Mahasiswa harus menunjukkan jati dirinya sebagai intelektual dan sebagai agen perubahan, terlebih Provinsi Aceh sebagai daerah yang mengedepankan syriat islam, untuk itu tentunya tidak boleh menyampaikan pendapat dengan cara anarkis apalagi sampai menimbukan kerusuhan. Pesan Rachmad.

Aksi tersebut harus dijaga kemurniannya, dan tidak boleh atau jangan sampai ditunggangi kepentingan sesaat, kepentingan kelompok atau kepentingan politik, mahasiswa harus setia pada garis reformasi.

"Sebagai salah satu alumni Universitas Muhammadiyah, kami berpesan untuk melakukan kajian-kajian kritis terhadap apapun termasuk produk-produk kekuasaan seperti peraturan perundangan dan kebijakan Pemerintah. Terkhusus di Aceh setelah hampir satu dekade, gerakan mahasiswa kurang optimal dalam melakukan kontrol terhadap kerja-kerja Pemerintah Aceh dan kerja-kerja DPR Aceh. Belum lagi di Aceh mahasiswa dibutuhkan untuk mengawal UUPA sebagai dasar hukum yang memberikan kewenangan khsusus untuk Aceh. Karena selama ini UUPA belum sepenunya dapat terealisasi secara baik." Ungkap Rachmad.

Kepada aparat penegak hukum khususnya Polisi, KAUM Aceh juga memberika apresiasi yang sama karena mengedepankan pendekatan persuasif dalam penanganan demonstrasi.

Sekarang sudah sepatutnya mahasiswa terjun ke Gampong-gampong atau ke setiap pelosok Aceh untuk memberikan pencerdasan, karena salah satu tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi melakukan pencerdasan dan pengabdian kepada masyarakat, karena saat ini masyarakat sangat membutuhkan patron dan acuan dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial, untuk itu mahasiswa bisa memberikan advokasi ke masyarakat bawah. Tutup pengacara muda ini. (AD/Ulan)
KOMENTAR