BPNB Aceh Adakan Seminar Nasional Budaya Saman

author photoRedaksi
24 Sep 2019 - 13:09 WIB

BANDA ACEH - Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh Gelar Seminar Nasional Budaya Saman dengan mengangkat temanya "Strategi Pemajuan Saman di Indonesia antara Harapan dan Realita", yang berlangsung di Anjong Mon Mata,  Banda Aceh, Senin (23 September 2019) malam. 

Staf Ahli Menteri Mendikbud RI Bidang Inovasi dan Daya Saing, Ir.  Ananto Kusuma Seta,  M. Sc,  Ph.D mengatakan, 
keanekaragaman Budaya indonesia  seringkali dipandang sebagai kekayaan daerah untuk menilainya secara finansial. 

Namun, dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan, kekayaan ini sudah seharusnya dilihat sebagai kekayaan budaya yang selalu terbentuk dalam hubungan perbedaan yang mendasar antara manfaatnya seperti diperlihatkan banyak studi ekonomi budaya selama ini dengan mempengaruhi kerja budaya yang sudah banyak maju. 

"Program Platform Indonesia yang melaksanakan Festival Budaya Saman Tahun 2018 di Aceh yang dilanjutkan pada Tahun 2019 di Aceh dengan Seminar Nasional Budaya Saman, hal ini sebagaimana landasan UU Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan,  Indonesia merupakan  upaya konkrit untuk menghidupkan dan memajukan kebudayaan, "ujarnya. 

Ananto juga menyampaikan, Gayo Lues pantas berbangga ketika semakin banyak orang mengenal "Budaya Gayo Lues", dengan mempertahankan pemecahan rekor Muri setiap tahunnya Aceh melalui Saman menjadi Budaya yang luar biasa dapat dipecahkan oleh orang Gayo Lues.  

Harapannya, Event Kalender Agenda Budaya khususnya Aceh agar kedepan dapat untuk selanjutnya ditetapkan setiap tanggal 24 November yang setiap tahunnya dapat ditetapkan sebagai agenda tetap Festival Saman di Aceh sebagai tuan rumah yang akan dihadiri wisatawan mancanegara yang ada di seluruh dunia. 

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh,  Iriani Dewi Wanti S S M SP mengatakan,  Seminar Nasional Budaya Saman ini diikuti sebanyak 300 peserta secara online serta undangan offline yang bertujuan sebagai wujud partisipasi aktif peserta terlibat dalam mendorong pertukaran pengetahuan serta meningkatkannya sumber daya manusia di Bidang Kebudayaan khususnya di daerah seperti Aceh guna kelestarian ekosistem dalam pertunjukan Saman sebagai Warisan Budaya Dunia. 

"Perlu adanya masukan ide-ide gagasan tambahan pendapatan lebih kedepan yakni dengan adanya sertifikat selama ini sebagai peranan dapat bermanfaat, tentunya hal ini juga salah satunya objek kelanjutan perkembangan kebudayaan khususnya Saman lebih maju lagi melangkah sehingga dapat masuk juga kedalam kategori industri kreatif capaian promosi budaya tingkat Asia," ujarnya. 

Adapun narasumber menghadirkan delapan orang baik Provinsi, Nasional maupun Internasional yakni, Akademisi  UIN Ar - Raniry,  Prof Drs H Yusny Saby M A Ph D, Akademisi Etnomusikologi USU,  Drs Muhammad Takari M Hum Ph D,  Akademisi UIN Ar- Raniry,  Dr Kamaruzzaman-Ahmad MA, Direktur Kesenian - Ditjen Kebudayaan Kemdikbud, Dr Restu Gunawan M Hum, Kepala Badan Ekonomi Kreatif,  Triawan Munaf, Ilmuwan dan Kritikus Tari di Indonesia, Dr Sal Murgiyanto MA, Akademisi Etnomusikologi Monash University - Australia, Prof DR PHIL Margaret Kartomi AM FAHA dan Global Network Facilitator of ICH - UNESCO, Harry Waluyo. 

Disamping itu, seluruh peserta juga dapat langsung berpose Photobooth memakai pakaian Adat Gayo Lues berlayar lukisan pemandangan Gayo Lues sambil menikmati Kopi Aceh sambil berkunjung area beberapa Pameran Stand Perpustakaan, Balai Bahasa, IKAPI, Latihan Saman Kuy, Bandar Publishing,  Yayasan Pena, Dokarim, Tikar Pandan dan Riska Souvenir Tas Aceh. (Ulan)
KOMENTAR